Tampilkan postingan dengan label Ngawurtopia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngawurtopia. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Di Jalan Raya Jakarta..........

Orang Jakarta itu sangat menghargai waktu, mereka sering tergesa-gesa. Contohnya waktu di lampu merah, pengendara udah mulai jalan waktu lampu merah masih sisa 5 detik lagi. Saking menghargai-waktunya mereka sampai melakukan itu. Hebat! :)

Orang Jakarta itu senang untuk saling mengingatkan ke sesama. Masih kayak contoh di atas, waktu lampu merah di jalan tinggal 5 detik lagi, mereka akan klakson-klakson untuk mengingatkan pengendara lain, padahal belum ijo loh lampunya. Keren! :)

Orang Jakarta itu sangat percaya diri. Mereka sungguh percaya kalo naik motor tanpa helm itu bakal aman-aman aja sampai tujuan. Dan mereka sangat menghormati orang lain, soalnya ketika ada polisi, mereka pake helm buat menghormati polisi tadi, bukan buat keselamatan mereka, soalnya mereka sangat percaya diri. Luar biasa! :)

Orang Jakarta itu sangat pandai. Pengendara motor tau persis bagaimana cara menggunakan trotoar buat jalan mereka, tanpa menabrak atau senggolan sama pejalan kaki. Dan mereka juga pengertian, karena mereka jalan di situ biar mobil di jalan raya bisa melaju tanpa hambatan. Fantastis!

Orang Jakarta itu sangat multi-tasking. Waktu mengendara bisa sambil utak-atik handphone loh! Mereka bisa banget untuk fokus ke dua kegiatan sekaligus. Mantep! :)

Dari apa yang mereka lakukan di jalan raya aja bisa keliatan kan kalo orang Jakarta itu sangat membanggakan? Masih banyak contoh lain sih, tapi gue cukupin segitu aja ah, nanti banyak yang tersanjung hehe :)

Pesan gue buat kalian yang punya sifat-sifat seperti yang gue sebutin tadi: gue SALUT sama kalian!!

See you my friend!! :D

Senin, 23 April 2012

Ocehan lugas nan sarkastik

Kadang hidup terasa gelap, saat itu kita menggugat hidup itu jahat.. Kadang hidup terasa terang, saat itu kita menganggap kita beruntung.. Loh, kok aneh? Kenapa saat hidup jadi terang kita gak menganggap hidup itu baik, alih-alih kita yang beruntung? Nada yang sama, kenapa saat hidup gelap kita gak menganggap bahwa kita yang lagi sial dan (mungkin) lagi dapet ujian, alih-alih kita menuding hidup lagi jahat sama kita?

Ada satu titik dimana kadang kita sebenernya gak pantes untuk jadi dewasa, atau belum pantes.. Kenapa begitu? Dimana titik itu? Apa penyebabnya?

Renungkan sedikit saja, saya tidak perlu memohon supaya anda ikut merenung kan? Gak mau ya gak usah.. Oke, coba inget masa kecil kita? Terlalu jauh? Merasa udah tua? Coba liat dan perhatiin dengan seksama anak kecil yang sama sekali belum dewasa.. Mereka menuntut dunia untuk mendengar mereka, memaksa semesta untuk menuruti apa mau mereka, mengancam alam dengan memecah tangis mereka sendiri seolah suara mereka adalah sangkakala yang siap meluluh lantakkan siapapun dan apapun kecuali dirinya jika inginnya tidak berkabul.. Semua yang menentang mereka adalah kaum jahat, semua yang memanja mereka adalah kaum yang beruntung.. Sudah ketemu kaitan tentang analogi anak kecil tadi sama sesuatu yang tadi saya sebut sebagai titik dimana kita gak pantes jadi dewasa? Belum? Ah, kurang jelas apa lagi saya mengoceh? Andai saya menulis ini dengan tinta di atas kertas, saya pasti akan memeras kertas saya, biar tintanya tumpah di atas wadah dan saya kembalikan ke dalam pena, karena saya tidak rela tulisan saya yang sejelas ini tidak dimengerti..

Ada yang mau menolong saya? Tolong ubah tiap huruf yang saya tulis ini menjadi tinta dan masukkan ke pena kalian, karena saya sendiri tidak mengerti ocehan apa ini dan kenapa saya punya fikiran untuk menulisnya.. Ada yang bersedia menolong saya? Tidak? Ah, kalian memang jahat.. Atau ada? Ya, saya memang orang yang beruntung..

"Pandai-pandailah bersyukur, jangan mau enak terus"