Just another human-being's blog.. Welcome, Selamat datang, Bienvenue!! This is my lifespot, another reason of being me.. Hey you, yes you, thank you for visiting me.. :)
Tampilkan postingan dengan label Puisi Malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Malam. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 April 2012
Simphony empat musim
Semi..
Awan mulai ingat lagi untuk menghujan air.. Kelopak bunga bergetar, mengusir salju kemarin, mengusik putih kemarin untuk menghijau.. Ia terbuka, mereka terbuka.. Memanggil lebah terpanggil.. Hey, mentari kembali menyapa ramah, siapa yang tak bahagia kala mimpi akan menjadi nyata?
Panas..
Awan mulai tidur lagi, menyingkir hilang dari hidung mentari.. Mentari telanjang, memamerkan sengat lewat udara.. Topi-topi kain beludru dihempas angin yang terlalu diburu waktu untuk meniup nada sama ke kuping mereka, empat pasang kuping di padang rumput yang bercengkrama dengan riang akan terkabulnya panjat doa tentang hari yang cerah untuk berpiknik.. Dua pasang.. Yang satu lagi mengejar topi, yang satu lagi menggoda kupu..
Gugur..
Hutan berganti lantai, hijau menjadi jingga.. Atapnya turut berganti, hijau menjadi transparan.. Mentari berbusana awan lagi, mungkin malu setelah kemarin telanjang.. Sengatnya mulai hilang, namun tetap menusuk awan agar ia tak lagi lupa untuk sesekali mengguyur hutan yang kini tanpa atap.. Entah karena guyur itu atau karena mentari yang berbusana, atau mungkin karena keduanya, seluruh hutan beranjak jingga.. Ranggas mengganti panas..
Dingin..
Mentari hibernasi, dunia hibernasi.. Lantai jingga berubah putih.. Nada melankolis melantun menghangatkan jiwa kedinginan.. Awan, entah kerasukan apa, menyembur titik-titik mozaik putih yang kemudian menyatu menutup seluruh.. Bukan, bukan air.. Air tak lagi pasti eksistensinya, mereka tidur dan bersatu solid dalam beku..Tak ada jingga, tak ada hijau, tak ada warna selain putih.. Mungkin indah, mungkin syahdu, mungkin gelap, pasti dingin.. Mimpi itu datang lagi, karena waktu ini memang selalu ada untuk meramu mimpi sebelum putih kembali hijau.. Sebelum mimpi kembali nyata..
Seimbang
Malam berbisik, siang berisik.. Apalah arti suara jika kau tak mengerti apa.. Senja memerah subuh merekah.. Apalah makna pandang jika kau tak mengenal siapa..
Guntur itu gelegar lagi, tetap ia singgah menoreh bising yang sama.. Kosong sepi.. Apa sudah kau merenung, pikir pada diri, seribut apa yang mereka tuliwan dan tuliwati dengar pada getaran mahadahsyat suara guntur?
Pelangi itu ada lagi, masih ia datang menggores lengkung yang sama.. Hitam putih.. Apa sempat sekalipun kau bergumam, tanya pada diri, berapa warna yang mereka para butawan dan butawati lihat pada 7 ruas pelangi?
Baik buruk bukan untuk dikutuk.. Kasihan, mereka mestinya disyukuri.. Pahamkah kau, sakit beribu pahit rasanya menjadi baik namun ditampik.. Sadarkah, itu lebih menyedihkan daripada memang kau berniat jahat sangat jahat..
Sudah cacat patutlah tetap memanjatkan kasih karena telah terima.. Tiada kain tak bernoktah, sama iramanya dengan retak yang selalu ada pada gading..
Angkuh itu tidak perlu, buang saja jauh-jauh, sampai hilang sudah terbuang.. Tiada Tuhan mencipta makhluk sempurna.. Semua punya cacat, pun semua punya bakat..
Perlukah sombong mendengar guntur? Tidak, karena mereka yang tak mampu mendengar dapat melihat guntur.. Perlukah sesumbar melihat pelangi? Tidak, karena mereka yang tak kuasa melihat bisa mendengar pelangi.. Kau bisa, mereka tidak.. Mereka mampu, kau tidak.. Semua seimbang dalam kuasaNya..
Sabtu, 06 Agustus 2011
Aku dan Kamu -- Kita, Dua yang Satu
Genggam, tangan ini, hati ini, bahagia ini, rasa percaya ini.. Berlari kita, aku dan kamu, kita adalah dua yang satu..
Malam itu pelangi muncul, setelah hujan yang ramah, dingin yang jenaka, kita tiba-tiba ada di sana.. Tidak ada apa-apa, hanya lapangan rumput tempat anak-anak bermain bola tadi sore, cahaya bulan purnama bulat sempurna yang baru saja muncul mengganti hujan, simphoni dan tarian sakral dari seniman malam yang bersembunyi di balik hijauan rumput, dan kita, kamu dan aku.. kita mulai menari, berputar lembut di bawah kuasa poros yang kita buat dari genggam dua pasang tangan.. lagu kita adalah tawa..
"Kamu tahu, lapangan rumput ini panggung kita" kataku.. "Bulan adalah lampu dansa kita" katamu.. "Serangga malam adalah orkestra kita" kataku.. "Dan semua indah ini adalah kita" katamu..
Satu, dua, tiga tetes air mulai turun lagi.. Terang bulan berpura-pura menjadi gerhana dengan menarik selimut awan, ia malu, kita tahu.. Aku menatapmu, kamu menatapku.. Kamu mengerti, aku mengangguk.. Kita tak akan beranjak, tidak, kita tetap menari dan menyanyi, di bawah hitam selimut malam.. Di tempat dimana aku dan kamu akan selamanya menjadi dua yang satu, di tempat dimana lapangan rumput kecil menjadi dunia kita tanpa hadirnya eksistensi lain, di tempat dimana cahaya bulan bersinar hanya untuk kita, dan hujan turun hanya demi kita..
Lama sudah kita menari.. Tarian bulan kataku, tarian hujan katamu.. Entahlah, semua indah, aku tak peduli nama.. Di gundukan rumput bertumbuh bunga itu, kita percayakan untuk letakkan punggung kita.. Terbaring, menghadap kemaha-luasan yang hanya milik kita.. Ada gugusan bintang yang selalu kamu tunjuk, kamu memberikan nama "rasi bintang mimpi".. Aku memujanya juga, sama seperti pujaku untuk senyummu: cantik, berbinar, dan membuatku ingin memiliki selamanya..
Ada detik-detik yang selalu datang di saat-saat seperti ini.. Yang mungkin akan membuatku rindu nanti, saat tua, saat hanya ada aku di rumah, atau saat aku duluan yang pergi ke rasi bintang mimpi itu.. kau selalu terdiam pada akhirnya, namun tidak senyummu, ia selalu melengkung indah tak kenal lelah.. Mata kita mulai memandang hal yang berbeda, matamu masih mencoba menangkap bintang, sementara mataku menangkap senyummu.. Di detik yang lain kepalamu terangkat sedikit, berangkat ke bahuku.. Di sana ia akhirnya bersandar, namun masih saja kamu mencoba mencuri bintang lewat pandang, kali ini sedikit lebih dekat jarakmu ke bintang karena bahuku menopang kepalamu..
Pada akhirnya kamu akan tertidur, meninggalkan aku menikmati malam sendirian, hanya satu yang kamu masih lakukan.. Senyum.. Malam terasa amat hangat, cahaya bulan memeluk kita, di dunia kecil milik kita, yang selalu bisa kita datangi setiap malam, untuk menari lagi, menyanyi lagi, terbaring lagi, menyapa bintang lagi, dan untukku, memandang senyum abadimu lagi.. :)
Genggam, tangan ini, hati ini, bahagia ini, rasa percaya ini.. Berlari kita, aku dan kamu, kita adalah dua yang satu..
Senin, 01 Agustus 2011
Perjalanan
Pernah aku ingin berlari.. Kencang sekali.. Lantas aku berlari, mengejar itu, sesuatu yang aku tak pernah tahu dimana letak kaki-kakinya.. Tapi aku tak peduli, aku memilih acuh agar bisa tetap berlari.. Tapi aku mencoba bungkam, aku menggertak ragu dalam kalbu agar padam.. Bahwa apa yang aku tuju di ufuk sana memang benar ada, tak mungkin bohong dalam eksistensinya.. Maka aku tetap berlari..
Pernah aku ingin sejenak berjalan.. Menghela nafas sedikit lebih banyak daripada menjejak langkah.. Lalu aku berjalan, menunggu waktu.. Ada percaya yang terus kupegang bahwa sesuatu itu tak terbang menjauh, lalu menghilang.. Aku yakin, maka biarlah sedetik aku melambat..
Pernah aku ingin berhenti.. Tak bergerak.. Bertanya pada asa, masihkah ia ada? Masihkah ia pantas untuk ada? Palung itu kian mendalam, erosi menggali-gali, meragu ke-sekian kali.. Maka aku mulai berhenti..
Sore itu senjanya jingga.. Terang.. Matahari tak lagi satu, ia menjadi setengah di puncak-puncak datar muka laut yang meniru sosok matahari setengah tadi dengan tidak sempurna.. Aku menatap nanar ke sana, ke ujung dunia yang katanya tak berujung.. Menepi punggung ini ke sentuhan pasir pantai yang masih hangat.. Sosok-sosok hitam kecil melintas terbang bebas di laut luas bernama langit.. Mereka tidak pernah mau tahu batas.. Ada sesuatu yang juga mereka yakini entah dimana hanya mereka yang tahu.. Sama seperti aku.. Tidak, mereka berbeda denganku.. Karena mereka terus terbang.. Karena mereka hinggap dan berhenti bukan karena mereka tak lagi percaya.. Karena mereka selalu percaya.. Karena di sayap-sayap mereka ada mimpi yang selalu mereka bawa pergi.. Karena mereka bebas.. Karena mereka tahu..
Lalu aku merasa ingin sekali berlari.. Kencang dan lebih kencang.. :)
[010811 - Wima A. Natakoesoemah]
Senin, 27 Juni 2011
Pagi buta dan aku yang tak buta
Terjaga semalam..
Menggapai mimpi dalam mata yang terbuka.. Mencoba merangkai suara dari sunyi yang mengepung.. Gemerisik pohon dan simfoni hewan malam cukup membantu.. Nada itu terbentuk, namun hanya untuk telinga.. Sang hati yang angkuh sedang menolak dengar.. Ia diam, mengucap bisu, tetap seperti itu..
Esok hari adalah hari ini.. Kemarin telah lewat sejak dua jarum jam tak lagi sejajar menunjuk ke atas.. Aku bernyanyi dalam bisik--lagi.. Usahaku masih satu, untuk membungkam bisu yang terasa pekat..
Andai kedua bola penguasa indera penglihatan ini bisa menarik tutup tirai kelopaknya, mungkin aku tidak perlu terus-menerus mendengar sepi seperti ini.. Setidaknya mimpi masih bisa bersuara lebih lantang kala lelap..
Detik berdetak, waktu terbang menjauh.. Tidak juga otak ini menyerah untuk segera mengistirahatkanku.. Aku tetap di sini, duduk manis memandang jendela walau mungkin jendela pun telah bosan menatap balik.. Aku masih diam di sini, namun akalku ada di sana, terbang menggapai khayal-khayal tinggi, mencoba menarik mereka menembus batas antara nyata dan tidak..
Irama subuh telah bergema.. Nyanyian khidmat berkumandang dari tiap-tiap surau yang berlomba-lomba melantunkan nada paling indah.. Aku bergeming, tak beranjak.. Dagu yang sedari tadi ditopang kedua tangan mulai lelah dan perlahan turun menyentuh meja kayu.. Dalam posisi duduk aku melakukan banyak hal.. Aku mendengar dendang fajar, aku bermimpi, aku tersenyum, aku mencerna damai, aku kosongkan racun dalam hati, aku syahdu, aku terlelap..
Langganan:
Postingan (Atom)
